Wanita Indonesia

wanita-indonesia

Menikahi Pekerjaan? Pertimbangkan Lagi Deh!

By Caring Lova on January 17, 2011

Apakah Anda benar-benar berkomitmen menciptakan work life balance, keseimbangan antara hidup dan kerja di tahun ini? Kalau ya, maka cobalah untuk melihat kembali kebiasaan yang boleh jadi dianggap baik, tapi sesungguhnya merupakan sabotase terhadap komitmen yang dibuat.

Salah satu bentuk sabotase yang kadang diabaikan adalah apa yang disebut sebagai “menikahi pekerjaan”. Apa maksudnya?

Gampang saja menjawabnya. Anda bekerja lebih panjang dari jam kerja yang semestinya, bahkan ketika tidak harus melemburkan diri. Anda menelpon kantor saat libur. Selalu sibuk mengecek email dan telepon berdering terus saat liburan. Atau bahkan tidak mengambil libur sama sekali.

Kehidupan Anda hanya berputar dari kerja dan kerja. Teman terbaik Anda, bahkan mungkin satu-satunya teman adalah pekerjaan. Ketika bertemu keluarga, yang Anda bicarakan hanya kerja dan kerja: proyek dan tugas yang didapatkan, dst. Anda tak punya hobi. Tak ada yang lebih menggairahkan selain pekerjaan Anda. Bahkan Anda tak sabar menanti Senin tiba.

Kalau tanda-tanda itu ada pada diri Anda, maka itulah indikasi “menikahi pekerjaan”.

Passion dan komitmen pada pekerjaan jelas penting. Apalagi bagi para wanita yang baru meretas karir. Kinerja cemerlang harus ditunjukkan pada atasan. Namun kalau kerja melampaui batas, dan bila akhirnya seorang wanita sampai “menikahi pekerjaannya”, hmm… rasanya mesti dipikirkan lagi deh.

Jelas ada sisi positif ketika seseorang bekerja keras, hingga over the limit. Mencurahkan berton-ton energi untuk pekerjaan bisa memberi banyak hal: rasa puas atas pekerjaan yang dihasilkan, apresiasi atasan dan ganjaran finansial, entah itu bonus atau kenaikan gaji. Pendek kata, banyak mendapat personal satisfaction.

Tapi, sisi negatifnya juga tak kalah banyak. Kehidupan manusia sesungguhnya memiliki banyak lajur, atau kolom yang juga mesti diisi. Ada lajur bernama kehidupan sosial maupun spiritual. Mengejar terlalu banyak kepuasan personal akan membuat kehidupan tidak berimbang. Mungkin akan mendatangkan kebahagiaan, tapi bisa dikatakan sesaat karena cuma di satu sisi.

Joan Benoit Samuelson, juara pertama lari marathon Olimpiade 1984 mengungkapkan sesuatu yang mengejutkan banyak orang seusai medali emas dikantunginya. Setelah berpeluh mengucurkan keringat, berlatih ribuan kilometer, dia menyatakan bahwa apa yang dicarinya bukanlah medali emas. “Ada hal lain selain lari. Ada hal yang lebih hebat selain medali emas olimpiade. Kehidupan di luar sana, bersama keluarga yang aku cintai,” katanya.

Perusahaan akan naik turun, seperti juga penjualan produk atau servis yang mereka berikan. Pesaing akan terus berdatangan. Preferensi konsumen berpindah seperti angin bertiup. Manusia akan terus beranjak menua. Boleh saja bekerja keras, tapi kalau akhirnya menikahi pekerjaan sampai lupa lajur kehidupan lain, ah… alangkah sayangnya.

So, sebelum terlambat, maka pikirkan lagi semuanya dengan masak-masak. Dan ada sedikit tips untuk membuat kita tidak terjebak dalam fenomena semacam ini. Pertama, jangan takut melupakan sejenak pekerjaan. Kedua, jangan juga merasa bersalah untuk meninggalkannya sejenak. Masih ada hari esok. Ketiga, jangan merasa hanya Anda yang bisa mengerjakan suatu pekerjaan sehingga Anda mati-matian tak kenal waktu. Keempat, Anda adalah master, pengontrol kehidupan, bukan pekerjaan yang mengontrol Anda.

Terakhir, ada nasehat Anna Quindlen, penulis buku A Short Guide To A Happy Life yang layak direnungkan. “Don’t ever confuse the two, your life and your work … The second is only a part of the first … Get a life. A real life.”

Ya, pekerjaan adalah bagian dari kehidupan. Jangan sampai terbalik: memasukkan kehidupan dalam pekerjaan.

Ayo rileks sejenak, sebelum semuanya terlambat!

About Caring Lova


Artikel Menikahi Pekerjaan? Pertimbangkan Lagi Deh!

2 Comments

  1. Pingback: Tweets that mention Menikahi Pekerjaan? Pertimbangkan Lagi Deh! - Caring Career -- Topsy.com

  2. Pingback: Sukses Berkarir, Jangan Lupa Menikah! - YCPA

Komentar Kamu?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>