Wanita Indonesia

wanita-indonesia

Menghadapi Bos Pemarah

By Caring Lova on June 20, 2011

Mendapat atasan yang penuh pengertian dan men-support kita adalah harapan banyak orang. Tapi, bukan cerita baru kalau yang dihadapi adalah sebaliknya: atasan yang sumbunya pendek alias cepat meledak menumpahkan amarah, dengan atau tanpa sebab yang masuk akal.

Kalau sesekali bos marah, sih, wajar. Tapi kalau marahnya sering, pastinya sangat tidak menyenangkan. Tentu saja kita harus berdoa agar tidak mendapat bos tipe pemarah seperti ini. Lantas, bagaimana kalaupun akhirnya kita mendapat situasi seperti ini?

Cara yang paling sering ditawarkan jika kita menghadapi bos tipe ini biasanya Cuma dua: quit atau quiet. Ya, keluar atau diam.

Kalau quit, boleh jadi persoalan selesai. Tapi bagaimana kalau kita masih tetap di tempat yang sama? Dan bagaimana kalau dia memanggil kita?

Caringlova, ini sedikit tips dari berbagai sumber yang rasanya pantas dicoba, deh:

Pertama: persiapkan diri. Tetaplah tenang dan tanamkan keberanian menghadapi situasi yang buruk sekalipun. Siapkan diri untuk mendapat perkataan yang tidak menyenangkan. Berdiri tegak, jangan merunduk untuk menunjukkan bahwa diri kita tidak terintimidasi.

Kedua: bersikap sopan. Disarankan untuk tidak bersikap arogan. Tapi jangan banyak senyum yang menunjukkan kemurahan hati yang berlebih. Temui bos dengan hormat tak berlebihan.

Ketiga: masukkan telinga kiri, keluarkan lewat telinga kanan. Bos mungkin akan menggerutu. Dengarkan saja. Pilah mana yang benar dan mana yang salah. Jangan langsung membantahnya. Ini sama saja dengan menyiram api dengan bensin. Cari momen yang tepat untuk mengutarakan pendapat.

Keempat: pahami sumber masalah. Sekalipun pemarah, tetap ada sumber persoalan yang diangkat si bos. Biasanya adalah pekerjaan yang dimatanya tidak beres. Tawarkan solusi yang mungkin bisa diterimanya. Dengan demikian kita bisa masuk untuk memberinya “pil pereda ketegangan”.

Kelima: laporkan pada atasan yang lebih tinggi. Bila kemarahannya tak berdasar dan sudah keterlaluan, menginjak hak asasi, misalnya, maka laporkan saja pada atasan yang lebih tinggi dengan bicara sebaik-baiknya.

Keenam: minta mutasi. Bila tak tahan lagi tapi masih tetap ingin di perusahaan yang sama, mintalah mutasi ke tempat yang berbeda, yang membuat kita tak bertemu lagi dengannya.

Itulah langkah yang bisa kita ambil bila menghadapi bos pemarah dan masih ingin kerja di perusahaan tersebut. Tapi bila si bos tak berubah juga, dan jika memang memungkinkan, ada baiknya kita membuat langkah ketujuh: pindah ke tempat lain. Rejeki toh di tangan Tuhan, kan?

About Caring Lova


Artikel Menghadapi Bos Pemarah

One Comment

  1. Berty anggun melati

    6 November 2012 at 22:07

    Berpikirlah positif dan tersenyumlah, walaupun pahit kenyataan yg kita terima tetaplah bersyukur krn pst ada hikmat dibalik semuanya itu

Komentar Kamu?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>